Mencatat sepertinya sesuatu yang bagus. Jika kita mencatat tiba-tiba kesan intelektual seakan menempel yang membuat kita bangga. Namun ironisnya, banyak pelajar sudah sering berkedok dengan mencatat. Mereka merasa sudah belajar. Jadi ini waktunya bermain, bukan? Inilah dosa pertama mencatat.
Dosa kedua dari mencatat adalah akan muncul dari dalam diri kita rasa ingin menunda memahami pelajaran. Kita akan selalu bisa berkilah, “nanti saja deh saya pelajari. Saya kan punya catatan.”
Dosa ketiga dari mencatat adalah mencatat akan melenyapkan kedahsyatan kemampuan otak yang kita miliki. Banyak orang yang sebenarnya bisa mennghafal alamat dengan baik. Tetapi ia tidak percaya dengan otaknya, maka ia catat alamat tersebut. Banyak orang yang sebenarnya bisa menghafal nomor telepon, tetapi sekali lagi ia tidak percaya dengan kehebatan otaknya, maka ia catat nomor tersebut.
Dan dosa keempat dari mencatat adalah mencatat membuat kita tidak memberi perhatian yang cukup saat kita mendengarkan pelajaran yang disampaikan. Padahal banyak materi yang seharusnya bisa dengan mudah kita kuasai ketika kita dapat memahami penjelasan disampaikan. Namun saat si guru menjelaskan dengan baik, waktu kita malah diisi dengan mencatat apa yang ia katakan. Kita berkilah, nanti akan bahas lagi di rumah.
Dan yang kelima, mencatat akan mencuri banyak waktu. Walaupun sebenarnya mencatat itu amat menolong, ketika pada suatu saat kita melupakan sesuatu. Namun coba lihat, dosa keempat tadi. Sebenarnya tanpa mencatat, si murid akan bisa memahami pelajaran. Dan jika ia paham, ia tak hanya bisa mengerjakan soal jika ditanyakan, tetapi ia juga bisa mencatat sendiri kapapun pun ia mau, tanpa kehilangan waktu di kelas yang sangat berharga.
Banyak orang berkilah, otak kita tak perlu dijejali informasi yang tak penting seperti nomor telepon atau alamat, maka harus kita catatkan. Mungkin untuk hal ini ia benar, tetapi itu tadi merupakan paradigma mencatat yang akan membuat ia mencatat semua informasi yang muncul didepannya. Jika sampai tidak dicatat, ia akan merasa belum mempelajarinya.
Lihat kisah belajar luar biasa di zaman para Nabi. Yang terdekat adalah kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang dengan tekun memberi perhatian pada apa yang disampaikan sang Nabi. Mereka tak hanya paham, mengahayati, tahu tafsirnya, memiliki spirit untuk melaksanakannya, dan hebatnya mereka pun mampu menghafalnya. Hadist -hadist Nabi, Itu tak lain merupakan bukti kehebatan otak manusia dalam merekam apa yang mereka dengar.
Manusia modern sekarang sudah tergantung pada alat-alat tulis. Jika dulu mereka hanya membeli pensil, kemudian naik menjadi pulpen dan buku catatan. Tas anak-anak sekolah dan mahasiswa yang penuh dengan buku catatan. Bahkan kini di zaman yang makin canggih, itu semua bisa dibantu oleh laptop yang bisa dibawa kemana-mana. Tapi sayang, itu semua seperti tipuan bahwa kita adalah orang terpelajar. Kenyataannya, banyak orang yang tasnya berat dengan buku catatan atau laptopnya memiliki memori yang besar, akan tetapi ia sendiri tak mengerti apa yang ada dalam catatan atau laptopnya. Tragis, bukan? Maka janganlah biasakan mencatat.






0 komentar:
Posting Komentar