RSS

Cirebon is my Culture

Kebudayaan yang saya ambil untuk menjadi topik dalam tugas  mengidentifikasi unsur kebudayaan kali ini adalah budaya daerah asal saya yaitu Kebudayaan Cirebon. Sebelum membahas lebih jauh, alangkah baiknya kita mengetahui unsur-unsur kebudayaan. Unsur-unsur kebudayaan antara lain : Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan Hidup dan teknologi, Sistem Mata pencaharian, Sistem Realigi, dan Kesenian. Kebudayaan cirebon yang terkait dengan unsur-unsur tersebut antara lain :
·         Bahasa
Letaknya yang secara geokultur berada di perlintasan dua kebudayaan besar membuat masyarakat di Cirebon, Indramayu, dan (sebagian) Majalengka (Ciayumaja) memiliki dua bahasa ibu. Perjalanan sejarahnya yang panjang kemudian membentuk peta kebudayaan yang mencerminkan adanya tarik-menarik pengaruh di antara dua kebudayaan  besar  tadi.
Yang dimaksud dua kebudayaan besar itu ialah Sunda di sebelah barat dan selatan, serta Jawa di sebelah timur dan utara. Pengaruh Sunda, dalam sejarahnya lebih bersifat politis karena Cirebon (Ciayumaja) dijadikan sebagai bagian dari wilayah kekuasaan (geopolitik) kerajaan-kerajaan Buddha-Hindu Kuno seperti Galuh, Pajajaran, dan Sumedang Larang.
Sementara pengaruh Jawa, lebih bersifat kebudayaan (geokultur) melalui interaksi sosial yang terbentuk karena letak geografis pesisir pantura yang strategis sebagai sentra perdagangan. Masuknya Islam pada abad ke-15 sampai ke-16, di antaranya lewat syiar Islam Sunan Gunung Djati yang menggunakan bahasa Jawa, seolah makin mempertegas pengaruh Jawa secara kebudayaan di wilayah tersebut.
Tarik-menarik di antara dua kebudayaan besar tadi, dalam perjalanannya, kemudian menghasilkan suatu kebudayaan tersendiri, yakni apa yang sampai sekarang disebut dengan kebudayaan Cirebon. Dari sisi kebahasaan, masyarakat yang berdiam di Ciayumaja, sampai sekarang lalu mengenal dua bahasa ibu (dwibahasa), yakni Sunda dan Jawa.
bahasa-jawa-cerbon-dermayonDari sisi kebahasaan (bahasa ibu) tadi, terbentuk pula peta dua bahasa yang bila merunut lewat kronologi sejarah atau proses terbentuknya konstruksi sosiologis dan antropologis masyarakatnya, menggambarkan intensitas pengaruh dari dua kebudayaan besar tadi (Sunda dan Jawa). Dalam konteks kewilayahan secara administratif  kenegaraan masa sekarang, di antara lima daerah, yakni Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan (Ciayumajakuning), hanya masyarakat Kuningan yang bahasa ibunya sama dengan daerah Pasundan umumnya, yakni bahasa Sunda. Empat daerah lainnya, yakni Ciayumaja, mengenal dua bahasa ibu, Sunda dan Jawa.
Akibat tarik-menarik pengaruh tadi, terbentuk entitas kebudayaan tersendiri yang disebut kebudayaan Cirebon. Dari segi bahasa, juga kemudian membentuk bahasa tersendiri, yakni yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Sunda Cirebon atau juga Jawa Cirebon.
Kata “Cirebon” menunjukkan bahasa Sunda yang dipakai masyarakat Ciayumaja, terdapat kekhasan, pun demikian dengan bahasa Jawa. Ada perbedaan-perbedaan dengan Sunda atau Jawa mainstream, terutama pada dialek (irama bahasa) dan idiolek (ragam bahasa).
Perbedaan yang terasa itu pada dialek dan idiolek. Sunda yang digunakan wong Cerbon, beda dengan Sunda mainstream. Juga dengan bahasa Jawanya. Dari fenomena itu muncul “peng-aku-an” bahwa Cirebon ya Cirebon, bukan Sunda maupun Jawa.
Pada fenomena itu, terdapat pula sisi keanehan, yakni bahwa bahasa Sunda dan Jawa yang digunakan masyarakat di Ciayumaja, terdapat kosakata “Sunda Buhun” dan “Jawa Kuno” yang di masyarakat Pasundan atau Jawa sudah tidak lagi digunakan.
Untuk bahasa Jawa, misalnya kata bobat (bohong), masyarakat Jawa (di Jateng dan Jatim) sudah sama sekali tidak mengenal. Untuk menyebut “bohong”, rata-rata orang Jawa menyebut dengan lombo atau nglombo atau ngapusi.
Kata bobat ini merupakan bahasa Jawa kuno yang oleh rata-rata masyarakat Jawa sendiri sudah tidak digunakan. Padahal, di balik kata bobat ada peristiwa sejarah yang sangat dramatis dan menimbulkan trauma bagi masyarakat Sunda umumnya, yakni Perang Bubat, (bubat berasal dari kata bobat) atau perang bohong-bohongan yang terjadi ketika sepasukan tentara Majapahit, atas perintah Patih Gajah Mada, menyerang rombongan Putri Padjajaran Diah Pitaloka (diyakini di daerah Majalengka) sekadar untuk menggagalkan perkawinan Prabu Hayam Wuruk dengan putri Kerajaan Sunda itu.
Ini berbeda dengan masyarakat yang berhasa Jawa. Sama dengan Jawa umumnya, mengenal tingkatan bahasa antara ngoko, kromo, dan kromo inggil. Bedanya di Ciayumaja hanya mengenal dua tingkatan, yakni ngoko (Jawa kasar) dan kromo (Jawa halus).
Di antara masyarakat berbahasa ibu Jawa di Ciayumaja juga terdapat beragam perbedaan dialek dan idiolek. Misalnya masyarakat Cirebon barat (Plered dan sekitarnya), utara (Suranenggala, Kapetakan) sampai Krangkeng dan sebagian Karangampel (Indramayu), dialek dan idioleknya hampir sama, yang menonjol pada penggunaan huruf “O”, misalnya kata “tentaro” untuk “tentara“, “siro” untuk “sira” (engkau, kamu), ini berbeda dengan masyarakat Cirebon kota dan Indramayu pada umumnya yang huruf “A” tetap dibaca “A” (tidak “O”). Rata-rata wong Dermayu menyebut “aku” dengan kata reang, sedang wong Cerbon isun.

·         Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan maasyarakat Cirebon dahulu kala, masih menganut paham animisme dan dinamisme yang dibawa oleh nenek moyang mereka. Sehingga kepercayaan bahwa benda-benda memiliki roh dan percaya akan makhluk halus memunculkan mitos-mitos dan petuah-ptuah zaman dahulu. Misalnya, Seorang gadis dilarang untuk duduk di pintu, karena mitosnya kelak nanti jodohnya balik lagi. Selain itu, ada juga yang mengatakan Kalau seorang gadis harus menyapu dengan bersih jangan sampai meninggalkan sisa kotoran dilantai karena mitosnya kalau menyapunya tidak bersih nanti suaminya jenggotan. Mitos-mitos tersebut jika di telaah memang tidak rasional dalam pikiran kita, tetapi sampai sekarang mitos tersebut masih diyakini oleh beberapa penduduk di Cirebon. Tetapi ketika kemajuan teknologi dan modernisasi mulai diperkenalkan di daerah Cirebon, pengetahuan masyarakat Cirebon sudah semakin modern, banyak yang berfikir kritis dan lebih rasional , sehingga ada juga sebagian orang yang sudah tidak meyakini mitos-mitos nenek moyang tersebut.
Karena seiring perkembangan zaman, kini masyarakat sudah mulai sadar akan kemajuan teknologi dan sains. Masyarakat mulai mencoba untuk berkenalan dengan medis karena di daerah Cirebon sudah banyak di bangun Rumah Sakit dan Pusat pelayan kesehatan lainnya. Mungkin ada juga sebenarnya di daerah yang sangat terpencil, misalnya daerah gunung Ciremai yang sangat jauh dari pusat kota Cirebon, karena letaknya di pinggiran hutan gunung Ciremai. Ada masyarakat yang masih menganut atau mempercayai orang-orang pintar ( seperti, dukun atau kyai). Mereka biasanya pergi ke dukun karena tradisi lingkungan masyarakat mereka masih meyakini hal-hal spritual seperti itu, atau pun karena faktor keterjangkauan sangat sulit bagi mereka untuk ke rumah sakit karena bertempat tinggal di pinggiran hutan.

·         Organisasi Sosial
Gambaran tentang pembentukan kota Cirebon.
 Dulu, daerah ini dikuasai oleh Kerajaan Galuh dan Sunda dari Kerajaan Siliwangi yang bermarkas di daerah Kawali Ciamis. Daerah ini disebut Kebon Pesisir setelah dihuni oleh 52 orang. Pembangunan kota ini dipimpin oleh Ki Somadullah, seorang santri Syaikh Datul Kahfi di Pondok Pesantren Gunung Amparan Jati (Sekarang di Desa Istana Gunung Jati). Pembentukan kota itu terjadi pada 14 Bagian Terang (Sukia-Paksa) bulan Caitra tahun Saka 1367, bertepatan dengan tanggal 8 April 1445 M., atau 29 Zulhijjah 847 H., dibulatkan menjadi 1 Muharram 848 H. Tahun inilah yang kemudian dijadikan lahirnya Kota Cirebon. Kota ini, dulu disebut Kebon Pesisir dan masyarakat memilih Ki Danu Sela sebagai Kuwu pertama, karena dia sudah menetap di desa itu selama 5 tahun. Kuwu itu diberi gelar Ki Ageng Pengalang-Alang. Ki Danu Sela (Kuwu) sejak dulu senang menagkap ikan dan udang-udang kecil (rebon) di kali yang ada dekat rumahnya, hingga akhirnya penangkapan udang-udang itu banyak diikuiti oleh masyarakat. Sedangkan Ki Somadullah penginisiatif pertama pembangunan kota itu, dijadikan sebagai wakil kuwu, dengan gelar Ki Cakrabumi (Pangraksa Bumi).Dalam keadaan seperti itu, Ki Somadullah disuruh oleh gurunya agar dia menunaikan ibadah haji bersama adik kandungnya yang bernama Nyi Mas Rarasantang. Sedangkan istrinya, Nyi Endang Geulis tidak dapat ikut mendampingi suami, karena sedang hamil. Setelah pulang dari Makkah-Madinah (1447 M) Ki Cakrabuana diberi nama Haji Abdullah Iman. Dia menetap terus di Desa Kebon Pesisir yang kemudian dirubah menjadi Cirebon Larang. Setelah Ki Ageng Pengalang Alang wafat, maka H. Abdullah Iman diangkat menjadi Kuwu kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuana. Ki Somadullah alias H. Abdullah Iman adalah cucu Ki Ageng Tapa, ibunya adalah Nyi Subang Larang, yang menjadi santri Syaikh Qurro di Krawang, yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi. Jadi H. Abdullah Iman (Kuwu Cirebon Larang II) yang menjadi santri Amparan Jati itu pada hakikatnya adalah anak sulung Prabu Siliwangi. Pada waktu Ki Kuwu memimpin, Kebon Pesisir itu banyak didatangi oleh orang dari berbagai daerah, Sunda, Jawa, Sumatera, Luar Jawa selain Sumatera, India, Cina, Persia, Irak, Arab, dan Syam (Siria). Tentu saja mereka memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Meskipun begitu keakraban mereka tampak kompak, ketika mereka membangun tajug (masjid) Jalagrahan. Setelah dua tahun berikunya, Pangeran Cakrabuana membangun Kraton Pakungwati, yang namanya diambil dari nama puteri sulungnya sendiri yang lahir dari Nyi Endang Geulis.
Sekarang kota Cirebon sudah membentuk pemerintahan umum seperti adanya Bupati dan Walikota beserta para aparaturnya . Akan tetapi budaya keratonnya masih tetap ada sampai sekarang. Di lingkungan keraton masih ada keturunan raja dan yang menjabat di kekuasaan tertinggi yaitu Sultan Cirebon.  Tetapi kekuasaan tertinggi sebagai Sultan Cirebon biasanya hanya untuk perhatian masyarakat sekitar keraton.
·         Sistem Mata Pencaharian.
Pada sistem mata pencaharian di Daerah Cirebon. Ada beberapa mata pencaharian yang terapat dalam daerah ini, mulai dari nelayan, petani, pedagang, industri, dll.
Di daerah pesisir selatan cirebon, masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Di pesisir cirebon dekat dengan lokasi Pelabuhan cirebon, disini bukan hanya nelayan, ada juga yang bekerja sebagai penambang batu bara, sebagai awak kapal, sampai ada juga yang membuka pabrik pembuatan trasi udang dan pengolahan bahan-bahan dari hasil laut.
            Di daerah pegunungan atau daerah kabupaten dekat dengan pusat kota Cirebon. Masyarakatnya menganut mata pencaharian sebagai Petani. Baik petani padi, ladang sayur maupun buah.
            Di daerah pusat kota, masyarakatnya mulai banyak berkarir, karena di pusat kota Cirebon sudah terdapat banyak gedung-gedung kantor dan pusat bisnis lainnya. Selain itu banyak yang berwirausaha, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
            Di daerah kabupaten yang tak jauh dari pinggiran kota, banyak terdapat pabrik-pabrik.  Ini sengaja di tempatkan di luar pusat kota, agar dalam prosesnya pabrik-pabrik yang ada di Cirebon tidak mengganggu lingkungan di Kota akibat limbah-limbah pabriknya.
·         Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Sistem peralatan hidup bagi masyarakat agraris misalnya petani dan nelayan. Mereka cenderung menetap di daerah tempat tinggalnya,  Teknologi yang digunakan sudah cukup ada sentuhan dari bantuan pemerintah Cirebon yang memfasilitasi para petani dalam menggunakan traktor dan pembagian benih atau bibit serta insektisida secara gratis. Untuk masyarakat nelayan sendiri, mereka juga mendapat bantuan dalam subsidi bahan bakar yang digunakan untuk nelayan mecari ikan. Tetapi subsidi-subsidi tersebut tidak secara rutin diberikan setiap bulannya, mungkin dua kali dalam satu tahun. Tetapi ada juga masyarakat yang masih menggunakan cara tradisional, meskipun sudah mendapat fasilitas dari pemerintah, mereka cenderung melestarikan cara manual atau tradisional yang sudah turun temurun dilakukan semenjak masa nenek moyangnya.
·         Sistem Realigi
Agama yang terdapat di Cirebon sama dengan daerah lain yang beragam, misalnya ada kristen, katolik,islam. Budha, hindu, dan konghucu. Tetapi mayoritas masyarakat cirebon memeluk agama islam. Ini dikarenakan oleh adanya salah satu Walisongo yang mengajarkan isla di daerah ini yaitu Sunan Gunung jati. Sampai saat ini, keraton Sunan Gunung Jati masi ramai dikunjungi para penziarah wali sanga.
·         Kesenian
Kebudayaan yang melekat pada masyarakat Kota Cirebon merupakan perpaduan berbagai budaya yang datang dan membentuk ciri khas tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pertunjukan khas masyarakat Cirebon antara lain Tarling, Tari Topeng Cirebon, Sintren, Kesenian Gembyung dan Sandiwara Cirebonan.
Kota ini juga memiliki beberapa kerajinan tangan di antaranya Topeng Cirebon, Lukisan Kaca, Bunga Rotan dan Batik.
Salah satu ciri khas batik asal Cirebon yang tidak ditemui di tempat lain adalah motif Mega Mendung, yaitu motif berbentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama.
Motif Mega Mendung adalah ciptaan Pangeran Cakrabuana (1452-1479), yang hingga kini masih kerap digunakan. Motif tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton di Cirebon. Karena pada awalnya, seni batik Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton. Sekarang dicirebon, batik motif mega mendung telah banyak digunakan berbagai kalangan. Selain itu terdapat juga motif-motif batik yang disesuaikan dengan ciri khas penduduk pesisir.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

pak muliadi mengatakan...

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


Posting Komentar