Latang Belakang Masalah
Pada jaman ini, media eletronik merupakan media yang mampu menyebarkan berita atau informasi yang cepat dan memiliki jumlah penonton yang tak terhingga. Perkembangan teknologi informasi dan media massa, saat ini telah memasuki era tanpa batas. Setiap orang termasuk anak-anak dapat mengakses informasi melalui berbagai media massa termasuk televisi. Tayangan anak-anak merupakan salah satu tayangan yang disuguhkan oleh televisi. Bahkan bagi anak-anak, tayangan televisi tidak dapat dipisahkan dari kesehariannya dan sudah menjadi agenda wajib bagi mereka.
Saat ini, banyak anak yang lebih suka berlama-lama berada di depan media elektronik daripada belajar, bahkan hampir lupa dengan waktu makannya. Sesuai dengan tingkat perkembangannya, anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru hal apapun yang mereka lihat dari lingkungannya. Tanpa mempertimbangkan manfaat atau kerugian dari tayangan yang ditontonnya. Hal ini terjadi, karena anak-anak belum cukup memiliki daya pikir yang kritis, sehingga mudah percaya dan terpengaruh dari media yang dikonsumsinya. Itulah sebabnya mereka memerlukan sebuah tayangan sebagai hiburan khusus untuk anak, yaitu sebuah tayangan yang seharusnya mempunyai nilai edukasi yang baik.
Tayangan anak yang ada di televisi kerap kali menimbulkan perdebatan. Hal ini dikarenakan adanya fakta yang menyatakan bahwa tayangan anak mengandung banyak unsur-unsur negative, yang justru membawa pengaruh buruk pada perkembangan diri dan mental anak. Salah satu pengaruh buruk yang ada di tayangan televisi adalah pada penyebaran nilai-nilai kekerasan yang ada di dalamnya.
Dari hasil kajian yang dilakukan oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) pada tahun 2009 ditemukan bahwa unsur kekerasan merupakan unsur pelannggaran yang dominan pada program tayangan anak-anak. Dengan berpedoman dengan P3SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Penyiaran), unsur kekerasan pada program anak tersebut ditemukan pada bentuk penayangan adegan kekerasan yang mudah ditiru anak-anak. Pertama, menampilkan kekerasan secara berlebihan sehingga menimbulkan kesan kekerasan adalah hal yang lazim dilakukan. Kedua, kekerasan dalam hal ini tidak saja dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal, seperti memaki dengan kata-kata kasar.
Landasan Teori
Kekerasan
Menurut Wikipedia, kekerasan berasal dari bahasa latin, violentus yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Kekerasan adalah prinsip dasar dalam hukum publik dan privat romawi yang merupakan sebuah ekspresi, baik dilakukan secara fisik ataupun secara verbal yang mencerminkan pada tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat seseorang, yang dapat dilakukan perorangan atau sekelompok orang yang berkaitan dengan kewenangannya.
Keragaman jenis kekerasan:
a) Kekerasan yang dilakukan perorangan, yaitu perlakuan kekerasan dengan menggunakan fisik (misalnya, kekerasan seksual), verbal (termasuk menghina), psikologis (pelecehan), dalam lingkup lingkungannya.
b) Tindakan kekerasan yang tercantum dalam hukum publik, yaitu tindakan kekerasan yang diancam oleh hukum pidana baik secara sosial, ekonomi maupun psikologis.
c) Kekerasan simbolik (Bourdieu, Theory of symbolic power), merupakan tindakan kekerasan yang tidak terlihat atau kekerasan secara struktural atau kultural (Johan Galtung, Cultural Violence), dalam beberapa kasus dapat juga merupakan fenomena dalam penciptaan stigmasisasi.
Kekerasan merujuk pada gerakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan, pemukulan,dll), yang dimaksudkan untuk menyebabkan penderitaan atau menyakiti orang lain. Istilah kekerasan juga berkonotasi cenderung agresif untuk melakukan perilaku yang merusak.
Teori Perkembangan Anak
Jumlah kekerasan yang ditonton di televisi pada anak usia 7 tahun berhubungan secara signifikan dengan keseriusan tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan seseorang saat dewasa, sehingga dapat disimpulkan bahwa tayangan kekerasan di televisi dapat menyebabkan tindakan agresi pada anak-anak (Huesmann, 1986). Beberapa pengkritik menyatakan bahwa pengaruh tindakan kekerasan menyebabkan pengaruh agresi (Freedman, 1984). Kekerasan di tayangan televisi tentu saja bukanlah satu-satunya penyebab agresi, tetapi kekerasan di televisi dapat mempengaruhi perilaku agresi dan antisosial pada anak-anak. Menurut Sears (1991), faktor yang mempengaruhi perilaku agresi pada anak, yaitu proses belajar dan peniruan (imitasi).
Tahap awal dari belajar adalah proses imitasi. Dengan kata lain, berbagai materi yang masuk dalam benak seorang anak yang sedang menambah pengetahuannya akan teraktualisasi dalam perilaku meniru. Materi film yang terserap ke dalam jiwa anak-anak menjadi materi pembelajaran yang menambah pengetahuan dan terimplementasikan dalam bentuk perlakuan fisik yang dapat direkam oleh lingkungan sekitarnya. Pengaruh yang dapat ditimbulkan dari tayangan kekerasan bervariasi, tergantung dari usia anak, jenis kekerasan yang dilihat, dan juga seberapa sering anak melihat kekerasan tersebut.
Televisi
Media dapat memberikan efek yang tajam terhadap penontonnya, karena:
Pertama, media memudahkan orang untuk mempelajari cara-cara baru kekerasan yang kemungkinan besar tidak terpikirkan sebelumnya. Disebut juga dengan copycats crime, dimana kekerasan yang bersifat fiksi maupun nyata yang ditayangkan oleh media, kemudian ditiru oleh orang lain di tempat lain dengan alasan mendapatkan hasil yang serupa.
Kedua, desensitization effect, berkurang atau menghilangnya kepekaan kita terhadap kekerasan itu sendiri. Studi menunjukkan akibat dari banyaknya menonton tayangan kekerasan, orang tidak lagi mudah merasakan penderitaan atau rasa sakit yang dialami orang lain (Baron, 1974 dalam Baron & Bryne, 2000).
Ketiga, periklanan menganggap tayangan kekerasan lebih menjual. (Bushman, 1998, dalam Baron & Bryne, 2000) menemukan bahwa orang yang menonton kekerasan, kemungkinan besar hanya mampu sedikit mengingat isi dari tayangan komersial atau iklan.
Data dan Analisis Data
Untuk mengetahui adanya unsur kekerasan yang terdapat pada tayangan anak-anak di televisi, penulis mencoba melakukan observasi dengan mengamati dan menganalisa tayangan anak pada tiga stasiun televisi diantaranya, RCTI,Global TV, dan Trans 7.
Hasil Observasi adalah sebagai berikut;
Stasiun Televisi
|
Tanggal dan waktu
|
Nama Tayangan
|
Bentuk Kekerasan
|
A. RCTI
|
Minggu, 18 Desember 2011 pukul 07.30 WIB
|
Crayon Sinchan
|
· Teman sinchan menngejek sinchan
· Ibu Sinchan memukul kepala sinchan
|
Minggu, 18 Desember 2011 pukul 08.00 WIB
|
Doraemon
|
· Giant marah kepada Nobita
· Nobita di bully oleh Giant
| |
B. Global TV
|
Minggu, 18 Desember 2011 pukul 04.30 WIB
|
Dora The Exploler
|
Tidak ada Unsur kekerasan
|
Selasa, 20 Desember 2011 pukul 07.00
|
Spongbob
|
· Spongbob dicapit oleh Mr.Crab
· Spongbob diejek dan ditendang Patrix
| |
C. Trans 7
|
Selasa, 20 Desember 2011 pukul 13.00 WIB
|
Laptop si Unyil
|
Tidak ada bentuk kekerasan
|
Selasa, 20 Desember 2011 pukul 14.30
|
Koki Cilik
|
Tidak adan bentuk kekerasan
|
Analisis Data
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya bentuk kekerasan pada tayangan anak yang ada di sebagian stasiun televisi. Jenis kekerasan tersebut misalnya, jenis kekerasan fisik (memukul, menendang,dll), verbal (mengejek, memarahi,dll), psikologis (bullying).
Di masing-masing stasiun televisi adanya perbandingan mengenai perbedaan dalam tayangan kekerasan, yaitu seperti di RCTI dan Global TV yang terdapat unsur kekerasan, sedangkan di Trans 7 tidak ada unsur kekerasan melainkan unsur edukasi.
Kesimpulan dan Saran
Dengan demikian, berdasarkan teori perkembangan anak, maka tayangan anak-anak di televisi yang mengandung kekerasan tidak pantas ditonton. Karena mengandung unsur kekerasan yang frekuensi kemunculannya cukup tinggi. Sehingga keberadaannya bukan lagi dimaksudkan untuk mengembangkan cerita, namun sudah menjadi inti atau bagian utama. Kekerasan-kekerasan yang dimaksudkan pun tidak hanya dinilai dari perkataan kasar dan perkelahian. Namun ada juga kemungkinan bahwa anak-anak meniru dan mengaplikasikannya di kehidupan nyata. Dalam masalah ini, seharusnya orang tua memilliki peran penting untuk mengawasi anaknya agar tidak menonton tayangan kekerasan.
Daftar Pustaka
Papalia, Diane. E, Olds, Sally Wendkos, & Feldman, Ruth Feldman. 2009. Human Development (Perkembangan Manusia). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika
Rahmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
Nuryanti, Lusi. 2008. Psikologi Anak. Klaten: Penerbit PT. Macanan Jaya Cemerlang.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya.
Wikipedia.com






0 komentar:
Posting Komentar